Log In

Jambore Desa 2015: Pengarusutamaan Inklusi di Desa

Jambore Desa 2015 memperkenalkan gagasan desa inklusi melalui forum diskusi tematik, Rabu (16/12) di Desa Wulungsari, Selomerto, Wonosobo. Acara yang diselenggarakan oleh Forum Desa Nusantara tersebut mengusung tema “Perubahan dari Desa”.

Joni Yulianto, Direktur Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB) mengatakan bahwa desa merupakan wilayah terdekat yang memperlihatkan proses peminggiran difabel.

“Kurang lebih ada 70.000 desa di Indonesia, dan sebagian besar difabel tinggal di desa. Karena itu, tata kelola yang inklusif menjadi penting lewat jalur desa. Gagasan desa inklusi sangat tepat karena pemerintah Indonesia saat ini juga telah memiliki Undang-Undang No. 6/2014 tentang Desa. Pembangunan desa menjadi peluang besar untuk mewujudkan dunia yang inklusi,” jelas Joni

Joni yang saat itu mengisi diskusi bersama Ummi, program manajer Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak (SAPDA) menambahkan bahwa ada elemen penting yang harus dikuatkan di desa. “Elemen itu meliputi aktor difabel desa, penerimaan dan penghargaan masyarakat, partisipasi dan kelembagaan yang diakui keberadaannya di desa,” ujar Joni.

“Inklusi sosial difabel di desa akan terjadi jika ditopang dua hal : pertama, difabel kuat secara kapasitas dan gerakan, dan inklusi menjadi mainstreaming desa” tambah Joni.

Diskusi desa inklusi juga memberi ruang untuk tanya jawab peserta, berbagi pengalaman antar desa dan kemudian diakhiri dengan rekomendasi tematik yang nantinya akan menjadi bagian dari rekomendasi-rekomendasi dari keseluruhan topik yang terdiskusikan selama pelaksanaan Jambore Desa 2015. (Mohammad Syafi’ie)

Sumber: Solider

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

video desa inklusi

Perenc Desa Inklusi

Apa itu Masyarakat Inklusif

Peta Program RINDI